Stabilisasi Tanah
Pengaruh Keasaman Terhadap Stabilitas Tanah
June 29, 2016
Gambar Jalan Tambang
Material Lapisan Perkerasan Jalan Tambang
July 3, 2016
Tanah Stabilisasi

Stabilitas Tanah Berdasar Mekanisme Komposit

Secara umum stabilitas tanah bisa diartikan sebagai proses memperbaiki sifat tanah dengan penambahan atau perlakuan yang mendukung agar kekuatan tanah meningkat dan kekuatan geser bisa dipertahankan. Tujuan mendasar jelas untuk mengikat dan menyatukan agregat tanah sehingga bisa membentuk struktur jalan yang kuat. Menurut Bowles, 1991 tindakan yang dilakukan untuk stabilitas tanah berupa menambah material yang tidak aktif agar bisa meningkatkan kohesi atau tanahan gesek yang muncul, meningkatkan kerapatan tanah, menambah bahan yang menyebabkan perubahan kimiawi atau fisis tanah, menurunkan muka air tanah serta mengganti tanah yang buruk. Metode stabilisasi tanah yang sering digunakan adalah stabilitas kimia, fisik, termal dan mekanis. Jenis jenis perkerasan jalan berdasarakan stabilitas tanah tersebut diuraikan sebagai berikut:


Jenis Jenis Perkerasan Jalan

1. Stabilisasi Kimia

Metode ini menggunakan bahan-bahan kimia sehingga memungkinkan adanya reaksi kimia serta menghasilkan senyawa baru yang lebih stabil dibandingkan senyawa asal pada tanah. Proses stabilitas jenis ini telah digunakan sejak jaman Romawi kuno. Bangsa Romawi menyadari bahwa kondisi jalan buruk akan mempersulit pasokan barang melewati desa dan kota. Akhirnya mereka mencoba menambahkan dengan zat stabilitas seperti kalsium dan batu kapur. Hingga kemajuan pesat di bidang ini sejak tahun 1960 an ketika Amerika menggunakan metode stabilitas kimia untuk menjadikan jalan tanah di Vietnam bisa mendukung operasi militer mereka. Contoh paling sering digunakan adalah stabilitas tanah dengan bahan kapur, semen, garam dan larutan kimia lainnya.

2. Stabilisasi Fisik

Metode Stabilisasi fisik dilakukan dengan menggunakan energi yang disalurkan pada tanah agar memperbaiki karakteristik lapisan tanah. Contohnya stabilitas kompaksi, vibroflot prosess dan lainnya.

3. Stabilisasi Mekanis

Stabilisasi mekanis memanfaatkan material sisipan ke dalam lapisan tanah sehingga tanah lebih keras dan bisa menerima beban lebih banyak. Metode ini juga sering dikenal dengan istilah “perkuatan tanah (reinforcement Earth)”. Contoh stabilitas mekanis adalah stone piles, nailing, sand piles, anchor, cerucuk, geo-syntetics dan steeel band.

4. Stabilisasi Termal

Metode stabilisasi termal memanfaatkan panas (termal) untuk mempertahankan material tanah. Perlakuan ini menjadikan kadar air kristal tanah menjadi sangat rendah dan memungkinkan ikatan senyawa di dalam tanah lebih stabil. Alhasil tanah yang tadinya dimampatkan menjadi lebih kuat karena proses pemanasan ini. Konsep ini merupakan cara tradisional yang sudah banyak digunakan turun temurun sejak jaman nenek moyang bangsa Indonesia. Mereka memanfaatkannya untuk membuat batu bata, candi, gerabah dan lainnya.

Contoh stabilisasi tanah menggunakan metode termal sering digunakan pada pembuata keramik, batu bata, gerabah dan lainnya. Ketiga tujuan utama stabilisasi adalah memperbaiki penurunan, meningkatkan kapasitas daya dikung dan sifat permeabilitas tanah. Namun tidak semua metode perkerasan jalan di atas bisa memperbaiki ketiganya sekaligus. Misalnya stabilisasi kimia menggunakan bahan kapur dengan ion kalsium (Ca), meski hasilnya baik namun sifat kapur mengandung ion hidroksida (OH) yang memperbesar permeabilitas tanah.

Kasus lain stabilisasi dengan semen yang akan membentuk skeleton-skeleton pada tanah sehingga bisa meningkatkan daya dukung dan mencegah penurunan lapisan tanah namun skeleton ini justru mengakibatkan pori tanah lebih besar dan partikel tanah lebih granular sehingga mudah meloloskan aliran air. Demikian halnya dengan stabilisasi larutan kimia (NaOH) yang bisa meningkatkan daya dukung tanah namun mengakibatkan penurunan lapisan yang cukup besar. Stabilitas mekanis dianggap paling bisa untuk memperbaiki ketiga tujuan stabiltas tanah namun hanya diperuntukkan pada lapisan tanah dangkal. Stabilitas jenis ini terus berkembang sejak awal abad ke-20 dan diiringi dengan perkembangan teknologi sehingga bisa memperbaiki hampir semua karakteristik tanah.