Stabilisasi Tanah
4 Sasaran Utama Pengaturan Stabilitas Tanah
June 29, 2016
Tanah Stabilisasi
Stabilitas Tanah Berdasar Mekanisme Komposit
June 30, 2016
Stabilisasi Tanah

Pengaruh Keasaman Terhadap Stabilitas Tanah

Berdasarkan pendapat Joffe (1817) tentang pemberian batasan yang lebih maju mengenai kombinasi tanah antara fisik, kimia dan biologi. Tanah merupakan bangunan alami yang tersusun atas horizon-horizon yang mengandung bahan mineral dan organik, memiliki ketebalan tidak sama dan bersifat tidak padu (galir). Tanah hingga saat ini masih dianggap sebagai transformasi zat-zat organik dan mineral yang ada di permukaan bumi. Di bawah faktor lingkungan yang bekerja sangat panjang, Tanah memiliki organisasi dan morfologi yang kompleks. Namun agar bisa menghasikan fungsi yang sempurna, manusia melakukan berbagai transformasi kembali dengan membentuk stabilitas tanah agar bisa lebih statis dan aman ketika dilewati atau didirikan bangunan.

Dari segi kimiawi, keasaman tanah cukup penting dan diperhatikan ketika melakukan upaya perkerasan jalan. Berbeda dengan tanah pertanian yang justru membutuhkan keasaman untuk menentukan keberadaan unsur hara dalam tanah. Pada perkerasan jalan keasaman justru menghindari tanah terlalu asam dan terlalu basa. Tanah yang terlalu asam akan terlalu banyak unsur hara dan menjadikannya tidak stabil, jika terlalu basa juga mengurangi kualitas jalan tanah. Tingkat keasaman PH pada tanah bisa sangat berpengaruh terhadap Capacity of Exchange Cation (CEC) serta muatan netto (elektro statis) pada partikel tanah.

1. Tanah dengan PH < 7
Tanah yang memiliki PH < 7 atau bersifat asam memiliki muatan netto partikelnya positif dengan reaksi sebagai berikut.
M OH + H2O <=> M OH2+ + OH-

Kondisi ini akan mengakibatkan CEC mengalami peningkatan karena pembentukan ion-ion positif (kation) pada masa tanah (clay). Jika ingin melakukan stabilitas tanah dengan kondisi seperti ini maka harus ditambahkan zat stabilizer yang aktif untuk meningkat kation dan bersifat basa. Seperti bahan kapur atau bahan basa lainnya.

2. Tanah dengan PH > 7
Sedangkan tanah yang memiliki PH > 7 atau bersifat basa memiliki muatan netto partikelnya negatif (-) sehingga reaksinya menjadi
M OH + H2O <=> M OH2- + OH+

Keadaan ini membuat CEC akan mengalami penurunan akibat terbentuknya ion negatif (anion) di dalam massa tanah (clay). Untuk mengatasi stabilitas tanah dengan kondisi seperti ini anda harus menambahkan zat stabilizer yang bersifat aktif menangkap anion atau bersifat asam.

Perlakuan kondisi asam dan basa tanah ini lebih ditujukan agar tanah mudah dilakukan stabilisasi dengan menjadikannya sesuai dengan kriteria tertentu. Selanjutnya langkah stabilisasi bisa disesuaikan dengan nilai keasaman tersebut. Bisa dilakukan dengan stabilisasi kapur, semen, larutan atau bahan lain yang dianggap cocok. Salah satu yang paling populer adalah menggunakan bahan kapur sebagai langkah stabilisasi secara kimiawi atau dikenal pula dengan istilah stabilisasi sementasi. Bahan kapur yang digunakan tentu berbeda, seperti pada tanah lempung yang menggunakan jenis buatan berupa Ca Co3. Cara ini sudah ada sejak perang dunia I dan II yang pada saat itu angkatan perang menggunakannya untuk melakukan perkerasan jalan tanah di medan peperangan.

Pada prinsipnya stabilisasi tanah mudah dilakukan dengan mengasamkan tanah yang terlalu basa dan juga sebaliknya. Jika tanah terlalu asam, tambahkan bahan yang bersifat basa seperti bahan kapur yang memiliki PH > 7 agar terjadi pertukaran ion pada tanah tersebut. Namun tetap harus melihat berbagai kriteria tanah dan kebutuhan yang diinginkan, karena tidak semua jalan tanah membutuhkan keasaman yang sama. Tergantung jenis tanahnya, apakah berbatu, berpasir, mengandung bahan organik dan lainnya.