Proses Pembuatan dan Perkerasan Jalan Tambang

Layanan perencanaan dan pekerjaan konstruksi pembuatan jalan tambang di Indonesia oleh SoilIndo. Melayani perusahaan tambang di seluruh daerah di nusantara

Infrastruktur yang baik sangat dibutuhkan oleh kegiatan apapun, termasuk dalam proses penambangan. Kegiatan ini butuh sarana vital berupa jalan tambang untuk konektivitas dan pengangkutan barang tambang. Untuk itu diperlukan perencanaan pengerasan jalan tambang pada area penting untuk mengubungkan perkantoran, crushing plant, pengolahan bahan galian, perumahan karyawan dan wilayah tambang lainnya.

Pada dasarnya perencanaan jalan tambang dan pembuatannya hampir sama dengan jalan lainnya, hanya saja berbeda pada bagian permukaan jalan atau road surface yang tidak mengandung unsur beton atau aspal seperti di jalan kota. Tujuannya agar jalan tanah bisa dilewati oleh alat-alat berat dan peralatan mekanis yang menggunakan crawler track seperti excavator, bulldozer, crawler rock drill (CRD), track loader dan lainnya.

Proses pembuatan jalan tambang dilakukan jauh hari sebelum penambangan dimulai. Perlengkapan mekanis yang sering digunakan untuk pembuatan jalan tambang ini berupa:

1. Buldozer
Alat ini digunakan untuk membersihkan lahan serta melakukan pembabatan area yang akan dibuat jalan tambang. Melakukan perintisan jalan, memotong timbunan dan melakukan perataan. Sehingga buldozer jadi alat yang pertama kali digunakan di area ini.

2. Alat Garu (roater atau ripper)
Selanjutnya gunakan garu untuk membantu dan mengatasi bebatuan keras yang menghalangi jalan. Alat ini membantu perataan jalan secara manual dengan menyingkirkan batu batu keras di area.

3. Alat Muat Hasil Galian
Jika perataan jalan tambang dilakukan pada saat ada gundukan tanah atau lokasi daratan yang tidak rata, tentu menghasilkan sisa galian cukup banyak. Anda membutuhkan alat untuk memuat hasil galian yang cukup besar ini.

4. Alat Angkut Hasil Galian Tanah
Hasil galian tanah tidak semuanya harus dimuat, ada beberapa yang harus dibuang ke lokasi penimbunan. Gunakan alat angkut untuk membawa hasil galian tanah menuju tempat penimbunan.

5. Motor Grader
Motor grader membantu untuk melakukan perataan dan perawatan jalan tambang yang sedang dibuat.

6. Alat Gilas
Terakhir gunakan alat gilas untuk memadatkan dan membantu meningkatkan daya dukung tanah agar siap dilalui kendaraan bermuatan berat.

Selanjutnya jalan tambang juga harus dilengkapi dengan drainase atau pengaliran air seperti pada jalan lain pada umumya. Tujuan utamanya untuk menampung air hujan jika kondisi curah hujan tinggi dan menampung partikel kecil yang terbawa arus air hujan tadi. Jika melalui melewati sungai, maka harusi dibuat jembatan dengan konstruksi yang sama dengan jembatan kota. Namun jika hanya berupa parit kecil, bisa diatasi dengan penggunaan gorong-gorong (culvert) lalu dicampur tanah dan batu hingga ketinggian tertentu.

Pengukuran Geometri Jalan Tambang

Tolok ukur pembangunan dan pengerasan jalan tambang telah berhasil sempurna adalah operasional transportasi di lokasi tambang berlansung dengan baik dan desain jalan tambang memiliki konstruksi stabil dalam jangka waktu lama. Rute jalan tambang yang identik dengan medan berat dan sulit dilalui tentu jadi tantangan tersediri untuk membangunnya. Dengan pengukuran geometri yang tepat tentu bisa memaksimalkan hasil yang diperoleh.

Berikut ini dipaparkan geometri jalan tambang yang harus diperhatikan ketika awal pembuatan konstruksinya, disajikan oleh SoilIndo, perusahaan perkerasan jalan tanah di Jakarta dengan layanan perencanaan dan konstruksi pembangunannya di seluruh Indonesia.

1. Lebar Jalan Angkut

Lebar angkut yang ideal adalah disesuaikan dengan kebutuhan pengangkutan di atas jalan tersebut. Hal ini tentu bisa berbeda-beda setiap pembuatan jalan tambang karena fungsi jalan pun berbeda. Termasuk untuk perhitungan lebar jalan pada kelokan atau tikungan yang harus lebih lebar dibandingkan jalan lurus. Pada kelokan, kendaraan membutuhkan ruang gerak yang lebih lebar untuk melewatinya.

Menurut Aasho Manual Rural High Way Design, lebar jalan minumum pada jalan lurus lajur ganda atau lebih harus ditambah dengan setengah lebar alat angkut pada bagian tepi kanan dan kiri jalan. Anda bisa melakukan rule of tumb atau menggunakan angka perkiraan dengan ketentuan lebar alat angkut sama dengan lebar jalur. Sedangkan untuk pengukuran lebar angkut minimum bisa dilakukan dengan perhitungan rumus berikut ini:

L min = n.Wt + (n + 1) (½.Wt)
dimana:
L min = lebar jalan angkut minimum (meter)
n = jumlah lajur
Wt = lebar alat angkut (meter)
Misalnya, pengurukan lebar truck 773D caterpillar antara dua kaca spion kiri kanan adalah 5,076 m, maka jalan lurus lebar minmumnya dihitung seperti ini
L min = n.Wt + (n + 1) (½.Wt)
= 2 (5,076) + (3) (½ x 5,076)
= 17,77 m ˜ 18 m

Sementara lebar jalur untuk belokan atau tikungan dihitung lebih besar dengan perkiraan lebar jejak ban, lebar juntai atau tonjolan alat angkut, jarang antar angkut saat dipersimpangan dan jarak kedua tepi jalan.

2.Jari-Jari Tikungan Dan Super-Elevasi

Jari-jari tikungan disesuaikan dengan kontruksi alat angkut yang akan melewatinya. Caranya dengan menghitung jarak horizontal antar poros roda depan dan belakang. Selanjutnya dihitung dengan rumus tertentu agar bisa mendapatkan nilai jari-jari tikungan. Tidak hanya itu, perhitungan juga dilakukan untuk mengetahui sudut maksimum penyimpangan kendaran dengan merumus kecepatan (km/jam), super elevasi (%), besar derajat tikung dan koefisien gesek melinang. Tujuannya untuk menghindari kemungkinan kecelakaan pada kecepatan terntentu saat superelevasi maksimum dan koefisien gesek maksimum tercapai.

3. Kemiringan Jalan

Kemiringan pada saat melakukan pembuatan dan perkerasan jalan tambang tentu sangat penting agar kemampuan alat angkut dapat berfungsi maksimal pada saat pengereman pada turunan dan melaju pada tanjakan. Pada pengukuran jalan tambang, kemiringan diukur dalam bentuk persentase (%). Jalan tambang maksimum yang bisa dilewati oleh truk berkisar antara 10% sampai 15% atau berupa 6o sampai 8,5o. Sedangkan untuk jalan naik atau turun bukit maksimum memiliki kemiringan 8%. Untuk itu jika lebih dari 8% maka harus dibuat kelokan agar kemiringan bisa berkurang.

4. Cross Slope

Cross slope merupakan sudut bentukan dari dua sisi permukaan jalan pada bidang horizontal. Meski pada umumnya jalan memiliki bentuk penampang melintang, namun harus dibuat dengan sudut bentukan tertentu agar bisa memperlancar aliran air. Jika hujan turun maka air akan segera mengalir ke tempat jalan angkut, dan tidak berhenti pada permukaan jalan. Genangan air pada tengah permukaan jalan tambang bisa membahayakan kendaraan yang melaluinya dan mempercepat kerusakan jalan. Perhitungan cross slope adalah dengan perbandingan jarak vertikal dan hrizontal. Jalan tambang ideal seharusnya memiliki nilai cross slope antara 1/50 sampai 1/25 atau 20 mm/m hingga 40 mm/m.

Setelah konstruksi dilakukan dengan tepat, maka selanjutnya adalah pengerasan jalan tambang agar bisa menopang beban angkutan. Mulai dari perkerasan lentur (flexible pavement), perkerasan kaku (rigid pavement) dan perkerasan kombinasi lentur-kaku (composite pavement). Tujuan perkerasan jalan tambang agar mampu menahan beban pada jalan poros yang diteruskan pada lapisan fondasi sehingga daya dukung tanah bisa maksimal. Perkerasan ini dipengaruhi oleh kepadatan lalu lintas, mekanis bahan yang digunakan, sifat fisik dan daya dukung tanah.