Monitoring Plan PT Agro Bukit Yang Matang

Kelapa Sawit Papua
PT Nabire Baru Papua Ciptakan Lapangan Kerja
Perkebunan Sawit

Perkembangan perkebunan kelapa sawit kian tinggi di Indonesia. Ini disebabkan karena, tingkat permintaan CPO dunia yang semakin meningkat. Diketahui bersama, kelapa sawit adalah bahan baku utama untuk pembuatan CPO, yang menjadi salahs satu konsumsi minyak nabati dunia.

Dari sekian banyak perusahaan kelapa sawit, PT Agro Bukit, menjadi salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berkedudukan di desa Natai Baru, kecamatan Mentaya Hilir Utara, kabupaten Kotawaringin Timur, Propinsi Kalimantan Tengah Indonesia. Perkebunan kelapa sawit ini dikelola sebagai satu inisiasi penanaman kelapa sawit di Kalimantan Tengah dengan tujuan untuk meningkatkan produksi TBS sawit nasional. Yang tentu kedepannya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan CPO.

Sebagai salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan cakupan lahany yang luas. PT Agro Bukit membagi kawasan tanam atau estates dalam beberapa kawasan. Setidaknya terdapat 4 estates yang masing-masing berada dibawah kendali manajemn utama, diantaranya adalah; tanah putih, sungai binti, sawahan, dan sungai lenggana estates. Masing-masing estates dikelola dengan profesional agar bisa menghasilkan hasil TBS (Tandan Buah Segar) yang maksimal. Keseluruhan potensi ini diberkas dalam satu monitoring plan. Hal ini dimaksudkan agar setiap estates atau kawasan tanam dapat diketahui seberapa produktifnya. Dengan demikian maka kemungkinan produksi per tahun akan bisa dipetakan secara maksimal.

Dari hasil monitoring plan tersebut, dapat dipetakan, untuk masing-masing estates, dapat menghasilkan TBS per tahunnya antara lain; tanah putih menghasilkan 54,466, sungai binti menghasilkan TBS sebesar 54,487, sawahan 91,752 ton, sedangkan sungai lenggana diperkirakan 42,282 ton. Keseluruhan ini bila dikalkulasikan untuk keseluruhannya maka diperkirakan akan bisa menghasilkan kurang lebih 244,987 ton pertahunnya. Tentu saja hasil ini, masih akan terus ditingkatkan dalam tiap masa tanam pertahunnya.

Kondisi ini tentu harus terus dimonitoring oleh perusahaan agar target tercapai tiap tahunnya. Beberapa yang termasuk berpengaruh dalam hasil panen TBS sawit pertahun diantaranya adalah, kesuburan tanah, ada tidaknya hama penyakit, perawatan tanaman serta masalah-masalah lain yang termasuk dalam standar penanaman dan perawatan sawit. Keseluruhan ini, berada dalam pantauan manajemen perusahaan secara berkesinambungan agar jangan sampai terjadi masalah yang dapat menurunkan kapasitas produksi.

Tak hanya faktor teknis yang menjadi bagian dari monitoring plan perkebunan kelapa sawit, PT Agro Bukit. Hal-hal yang menyangkut dengan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) juga merupakan masukkan yang tercantum dalam catatan monitoring. Ini agar selain kapasitas produksi tetap bisa terjaga, sisi lain juga akan terus bisa menjadi fokus mendasar dari keseluruhan kerja perusahaan. Intinya, tentu saja untuk menjaga kemajuan dalam keseluruhan kerangka kerja perusahaan.

Monitoring perusahaan sawit tercantum dalam nota yang dikeluarkan RSPO atau Rountable on Sustainble Palm Oil. Nota ini dikeluarkan oleh asessor yang secara langsung meninjau tata kelola perusahaan selama waktu tertentu dalam satu kali putaran masa tanam. Dan dalam nota yang dikeluarka RSPO, perkebunan sawit yang dikelola PT Agro Bukit selalu menuai hasil matang dan lulus uji mutu.

Matangnya nota monitoring perusahaan sawit akan secara langsung berpengaruh pada kemajuan perusahaan. Dampak lainnya tentu agar perusahaan dapat berkontribusi secara penuh pada kemajuan sawit nasional. Tentu ini adalah kerja keras yang terus berkesinambungan dari masa ke masa. Terjaganya kapasitas produksi kelapa sawit nasional akan berdampak langsung pada industri CPO dalam negeri tentu berhubungan dengan devisa negara.