Tanah Stabilisasi
Stabilitas Tanah Berdasar Mekanisme Komposit
June 30, 2016
Jalan Utama Kebun Sawit
Jalan Perkebunan Sawit Cara Pengerasannya
July 15, 2016
Gambar Jalan Tambang

Material dan Karakteristik Lapisan Perkerasan Jalan Tambang

Pengerasan jalan tambang ditujukan untuk meningkatkan daya dukung tanah agar bisa menopang kendaraan dengan beban tersebut di atasnya. Jenis kendaraan pun beragam berdasarkan perlakuan dan material yang digunakan. Faktor pengaruhnya berupa kepadatan lalu lintas, mekanis bahan, sifat fisik tanah dan daya dukung tanah itu sendiri. Salah satu hal terpenting adalah penggunaan material perkerasan jalan tambang yang mendukung. Material perkerasan yang dimaksud merupakan material yang digunakan untuk melapisi permukaan sub grade. Berdasar sifat dasarnya diklasifikasikan menjadi 4 jenis yaitu sebagai berikut:

1. Material Berbutir

Material ini berbentuk krikil yang diambil dari sungai atau dari agregat batuan yang dipecah menggunakan crusher atau pemecah batu. Distribusi ukurannya pun telah mengikuti standar baku yaitu AASHTO, ASTM, NAASRA (National Association of Australian State Road Authorities) atau SNI agar menghasilkan kestabilan mekanis serta dapat dipadatkan. Selain itu agar perkerasan maksimal bisa ditambahkan bahan aditif tanpa menambah kekakuan.

2. Material Terikat

Material terikat merupakan materi perkerasan jalan yang dihasilkan dengan cara menambahkan kapur, semen atau zat cair lainnya pada jumlah tertentu agar menghasilkan bahan terikat. Ikatan antar butir akan menghasilkan tarikan yang lebih kuat. Diharapkan lapisan perkerasan ini dapat menahan beban kendaraan dan keunggulannya bisa bertahan lebih lama. Namun pada situasi tertentu, penggunaan bahan ini dirasa terlalu boros jika jalan tambang yang dibangun terlalu panjang. Sehingga salah satu alternatifnya adalah menambahkan kapur atau semen pada titik-titik tertentu saja sesuai dengan perhitungan yang tepat.

3. Aspal

Seperti yang banyak kita jumpai di jalan kota, aspal juga kadangkala diperlukan di jalan tambang. Komposisi aspal adalah bitumen dengan agregat yang dicampur, dihampar dan dipadatkan dalam kondisi masih panas sehingga lapisannya mengalami perkerasan. Kekuatan dari hasil gesekan antar partikel-agregat serta viskositas bitumen ini akan memperkuat perkerasan jalan. Apalagi dengan adanya kohesi dalam masa bitumen dan adhesi antara bitumen dalam agregat yang membuatnya tampil lebih kuat. Namun adakalanya proses pengerasan, pembuatan jalan tambang menggunakan aspal mengalami kegagalan. Pada umumnya terjadi akibat stabilitas yang kurang sehingga mengalami deformasi permanen atau karena kelelahan sehingga muncul retakan-retakan. Penggunaan aspal dirasa lebih kuat dan stabil dibandingkan dengan yang lainnya, terutama diperuntukkan pada jalan tambang yang memiliki intensitas tinggi untuk dilalui.

4. Beton Semen

Jalan yang menggunakan beton semen saat ini cukup populer digunakan, mengingat kekuatannya yang dianggap lebih baik dibandingkan aspal dan lebih tahan terhadap panas dan pemuaian. Meskipun sebenarnya justru lebih licin ketika hujan datang.

Beton semen ini berupa agregat yang dicampur menggunakan semen PC basah. Lapisannya pada jalan tambang lebih sering digunakan untuk fondasi pada jenis perkerasan kaku. Sebagai fondasi bagian bawah, beton semen dituangkan begitu saja pada lapisan subgrade yang jelek (poor sub-grade) kemudian baru digilas. Tekanan minimum peletakan beton semen adalah 5Mpa selelah 28 hari jika menggunakan campiran abubatu (flyash). Sedangkan jika tanpa menggunakan abu batu bertekanan 7MPa. Perkerasan kaku misalnya harus selalu menggunakan beton semen agar lapisan fondasi atas lebihkuat. Pada prinsipinya parameter perencanaan fondasi beton didasarkan atas kuat lentur rencana dalam 90 hari. Setelah itu baru diperkirakan bahwa kuat lentur fondasi sudah cukup stabil dengan ketebalan pengerasan jalan tambang yang sudah diperhitungkan sebelumnya.

Lapisan Perkerasan Jalan Tambang

Setidaknya terdapat 3 jenis konstruksi lapisan perkerasan jalan tambang yaitu lapisan lentur, lapisan perkerasan kaku, dan kombinasi lentur-kaku. Setiap jenis memiliki 2-3 susunan material di atas sub grade (tanah dasar). Lapisan teratas disebut lapisan permukaan (surface course), dibawahnya lapisan fondasi atas (base course) dan diantara base-course dengan sub-grade disebut lapisan fondasi bawah (sub-base course).

Pada perkerasan kaku jenis susunan lapisan perkerasan telah memiliki fungsi yang berbeda pada saat merespon dan manerima beban. Rancangannya telah diukur sesuai kondisi alamiah lapisan tanah dasar, faktor lingkungan, kondisi cuaca serta, air tanah hingga lalu lintas yang akan melaluinya.

Berikut ini berbagai fungsi dari macam-macam lapisan pada perkerasan kaku tersebut, disajikan SoilIndo, perusahaan perkerasan jalan tanah di Indonesia.

a. Lapis Permukaan

Fungsi lapisan permukaan adalah menahan beban roda yang memiliki stabilitas tinggi selama kendaraan melintas. Lapisan ini harus kedap air agar hujan yang menalir di atasnya tidak meresap dan melemahkan lapisan. Lapisan permukaan juga berfungsi sebagai lapisan aus (wearing course) yang artinya lapisan yang langsung menderita gesekan akibat rem, dan mengakibatkan aus ban. Terakhir lapisan ini juga berfungsi menyebarkan beban ke lapisan tanah, sehingga dapat dipikul oleh lapisan lain yang memiliki daya dukung lebih buruk.

b. Lapis Fondasi Atas

Bagian lapisan fondasi memiliki 3 fungsi utama yaitu pertama sebagai penahan gaya melintang dari beban roda serta menyebarkannya ke lapisan di bawahnya. Kedua menjadi lapisan peresapan untuk bagian di bawahnya dan ketiga sebagai bantalan bagi lapis permukaan.

c. Lapis Fondasi Bawah

Pertama Bagian ini harus bisa menyebarkan beban roda kendaraan ke tanah dasar.

Kedua mengurangi tebal lapisan di atasnya karena material atau bahan fondasi di bawahnya yang lebih murah dibandingkan lapisan di atasnya sehingga bisa dilakukan efisiensi.

Ketiga, lapisan fondasi menjadi lapis peresapan agar air tanah tidak berkumpul di fondasi.

Keempat, sebagai lapis pertama yang harus dikerjakan paling cepat agar bisa menutup lapisan dasar dari pengaruh cuaca, serta melemahkan daya dukung tanah dasar akibat selalu menahan roda alat berat.

Sedangkan pada lapisan material perkerasan jalan lentur terdiri dari 3 lapisan di atas tanah dasar yaitu lapis fondasi bawah, atas dan permukaan. Ketiga lapisan tersebut memiliki tujuan hampir sama namun tetap harus ada karakteritik wajib yang harus dipenuhi. Berikut ini berbagai karakteristik yang wajib dimiliki oleh ketiga lapisan pada perkerasan lentur:

1. Bersifat elastis ketika menerima beban sehinga nyaman bagi pengguna
2. Menggunakan bahan pengikat aspal
3. Semua lapisan menanggung beban
4. Penyebaran tegangan tidak merusak lapisan tanah dasar
5. Usia maksimum adalah 20 tahun
6. Dilakukan perawatan berkala (routine maintenance)

Agar memperoleh kualitas jalan yang baik dan sesuai dengan karakteristik kendaraan yang melaluinya maka jenis material dan tebal lapisan yang disusun harus sesuai dengan ketentuan. Ada batasan-batasan minimum yang tidak boleh dilewati agar jalan bisa bertahan lebih lama. Terlebih pada jalan utama area pertambangan yang memiliki lalu lintas cukup padat dan sering digunakan.

Perlu diketahui bahwa jalan tambang sangat jarang menggunakan material aspal atau beton semen karena biasanya pemanfaatan jalan berlangsung tidak terlalu lama. Mereka berpindah-pindah dan seringkali membuat jalan baru untuk waktu relatif singkat. Kecuali untuk fasilias perkantoran, kesehatan serta perumahan karyawan lebih sering menggunakan perkerasan dari aspal dan beton semen. Tentunya pengerasan jalan tambang yang paling dibutuhkan di lokasi penambangan adalah penambahan material sederhana yang bisa menjaga stabilitas tanah dan meningkatkan daya dukung tanah dalam waku relatif singkat.