Jalan Utama Kebun Sawit
Jalan Perkebunan Sawit Cara Pengerasannya
July 15, 2016
GAPKI
Daftar Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit
July 31, 2016
Jalan Lingkungan Aspal

3 Jenis Pengerasan Jalan Lingkungan Yang Paling Populer

Jalan lingkungan didefinisikan sebagai jalan umum yang melayani angkutan lingkungan terutama untuk angkutan jarak dekat. Kecepatan rata-rata kendaraan pun lebih rendah dan ukuran kendaraan lebih kecil. Biasanya berada pada kawasan rumah dengan desain tertentu dari developer. Meski demikian status kepemilikan adalah milik negara sebagai fasilitas umum.

Pembangunan dan pengerasan jalan lingkungan hingga perawatannnya bisa dilakukan oleh siapa saja, baik warga sekitar maupun pemerintah setempat. Sehingga menjadi tanggung jawab semua pihak yang berada di daerah tersebut. Akibat lain kita sering menemukan ada pungutan lingkungan untuk pembangunan dan perawatan jalan. Meski sebenarnya pemerintah daerah juga sudah menganggarkan untuk kebutuhan ini. Pada bagian struktur, perkerasan jalan lingkungan dibagi menjadi beberapa lapis yaitu lapisan tanah dasar (sub grade), pondasi dasar (subbase course), pondasi atas (base course) dan lapisan permukaan/penutup (surface course). Ditinjau dari teknik yang digunakan, pengerasan jalan lingkungan bisa dilakukan dengan tiga jenis cara yang berbeda yaitu sebagai berikut:

I. Perkerasan Jalan Lentur Menggunakan Aspal (Flexible Pavement)

Teknik ini dilakukan dengan cara mengikat aspal yang diberikan campuran aspal panas dan hot mix. Bahan dasar aspal hingga saat ini masih menggunakan import dari luar negari yaitu aspal shell, ESSO 2000 dan yang lainnya. Komposisi dasar 60% berupa aspal dari total semua hotmix.

Lapisan Jalan

Lapisan Tanah Dasar (Subgrade)


Lapisan tanah dasar ini bermanfaat sebagai tempat meletakkan lapisan perkerasan, mendukung kontruksi perkerasan jalan di atasnya. Pada pengerasan jalan lingkungan mengggunakan lentur lapisan tanah dasar berada di paling atas dari timbungan jalan setebal 30cm. Syaratnya beragam, disesuaikan dengan kepadatan serta daya dukung (CBR) tanah. Bisa berupa tanah asli yang dipadatkan jika memang baik, atau diurug dengan tanah lain yang memiliki stabilitas lebih baik. Jika ditinjau dari penggunaan tanah untuk lapisan dasar tentu terdapat 3 jenis lapisan yaitu lapisan tanah galian, urugan serta tanah asli. Bahkan jika dilihat jangka panjang ketiga jenis tanah ini mempengaruhi keawetan konstruksi dan daya dukung tanah dasar tersebut. Lapisan tanah paling dasar ini memiliki karakteristik berupa deformasi permanen karena beban lalu lintas, sifat mengambang dan menyusut karena perubahan kadar air serta dasya dukung tanah yang tidak merata.

1) Lapisan Pondasi Bawah (Subbase Course)

Lapisan pondasi bawah merupakan lapisan perkerasan di atas tanah dan di bawah lapis pondasi atas. Fungsinya sebagai penyebar beban roda ke tanah dasar, memberi lapis peresapan agar air tanah tidak berkumpul pada pondasi, mencegah partikel halus dari tanah naik ke lapis pondasi atas, melindungi lapisan dasar dari beban roda alat berat dan cuaca pada awal pembangunan jalan.

2) Lapisan Pondasi Atas (Base Course)

Lapisan pondasi atas ialah lapisan perkerasan yang berada di atnara lapisan bawah dan lapisan permukaan. Berfungsi sebagai bagian yang menahan gaya lintang dari beban roda dan menyebarkan beban ke lapisanbawahnya dan jugasebagai bantalan lapisan permukaan. Bisa dipastikan bahwa bahan dari lapisan ini lebih kerasa karena harus menahan beban-beban roda. Bahan lapis ini tidak mutlak karena bisa disesuaikan dengan kesediaan bahan, harga, volume pekerjaan serta jarak angkut ke lokasi.

3) Lapisan Permukaan (Surface Course)

Lapisan permukaan merupakan lapisan yang bersentuhan langsung dengan beban roda kendaraan bermotor yang melewati jalan. Berfungsi untuk menahan akibat beban roda kendaraan, menahan gesekan rem kendaraan (lapis aus), mencegah air hujan agar tidak meresap ke lapisan di bawahnya, menyebarkan beban ke lapisan di bawahnya.

Pada beberapa kasus, ada penambahan lapisan aus (wearing course) atau dikenal juga sebagai lapis penutup di atas lapisan permukaan. Fungsinya sebagai pelindung bagi lapisan permukaan, mencegah air masuk, menjadikan kekesatan (skid resistance) pada permukaan jalan. Lapisan aus juga tidak dihitung menahan beban berat kendaraan.

Jalan aspal saat ini masih menjadi primadona dan digunakan pada mayoritas jalan di Indonesia. Karakteristiknya serta biaya konstruksi sangat berbdeda dengan jalan tanah. Kelebihan jalan aspal adalah sebagai berikut:

a) Lebih mulus, halus serta tidak bergelombang alhasil berkendara lebih nyaman
b) Warnanya mempengaruhi psikologi pengguna jalan menjadi lebih nyaman dan teduh
c) Biaya pembangunan lebih murah dibandingkan konstruksi jalan beton
d) Perawatan lebih mudah yakni mengganti area rusak saja dengan baru

Namun juga memiliki kekurangan yaitu tidak tahan terhadap genangan air sehingga drainase harus berfungsi optimal saat hujan atau banjir. Apabila struktur tanah buruk akan terlihat jelas dan harus diperbaiki struktur tanahnya terlebih dahulu sebelum memperbaiki konstruksi jalan.

II. Perkerasan Jalan Kaku Menggunakan Beton (Rigid Pavement)

Perkerasan kaku menggunakan bahan beton semen ini menggunakan plat (slab) beton semen sebagai pondasi dan lapisan lapisan pondasi bawah atau bisa juga berada di atas tanah dasar. Konstruksi model ini, plat beton disebut sebagai lapisan pondasi karena kadangkala memungkinkan ditambah lapisan aspal beton di atasnya untuk bagian permukaan.

Figure Jalan

Perkerasan beton kaku ini mempunyai modulus elastisitas tinggi sehingga akan mendistribusikan beban pada bidang tanah dasar yang cukup luas sehingga bagian terbesar dari kapasitas struktur ini didapat dari plat beton. Cara ini beda dengan perkerasan lebtur yang kekuatan perkerasan dari tebal pondasi lapis bagian bawah, lapis pondasi serta lapis permukaan.

Pada pengerasan jalan lingkungan kaku dengan beton ini harus mengetahui kapasitas struktur yang akan menahan beban agar perencanaan beban tebal beton bisa dilakukan untuk kekuatan yang optimal. Sedangkan daya dukung dan kapasitas struktur tanah hanya berpengaruh kecil terhadap awet dan tidaknya jalan beton.

Lapisan jalan beton memiliki kelebihan yaitu menahan beban kendaraan berat, tahan genangan air saat hujan, biaya perawatan lebih murah dari pada aspal, bisa digunakan pada struktur tanah buruk, material lebih mudah diperoleh. Sedangkan kekurangannya yaitu kualitas sangat dipengaruhi oleh proses pelaksanaan yaitu:


• Pengeringan yang terlalu cepat bisa mengakibatkan keretakan, sehingga ditambahkan dengan zat kimia pada campuran beton dan ditutup dengan kain basah.
• Pada jalan raya dengan kapasitas berat terlalu tinggi, pembuatan jalan beton lebih mahal dibandingkan aspal, namun lebih murah saat perawatan.
• Kehalusan serta gelombang sangat ditentukan proses pengecoran dan harus diawasi dengan ketat.
• Perbaikan jalan harus dilakukan dengan meninggikan elevasi tanah, sehingga berpengaruh terhadap ketinggian jalan.
• Warna beton terlihat lebih gersang dan keras dan pengendara kurang nyaman.

III. Perkerasan Jalan Paving Blok (Block Pavement)

Perkerasan jalan dengan paving block dilakukan dengan campuran pasir dan semen yang telah ditambah campuran lain atau tidak. Paving block terkunci telah distandarisasikan melalui SII.0819-88 yaitu takaran komposisi bahan bangunan yang terbuat dari campuran semen paortland atau bahan perekat hidrolis lain, air serta agregat lain tanpa atau dengan bahan lain.

Menurut SK SNI T-04-1990-F, paving block merupakan segmen-segmen kecil yang dibuat dari beton berbentuk segi empat atau segi banyak yang dipasang sehingga mengunci. (Dudung Kumara, 1992; Akmaluddin dkk. 1998).


Paving Block


Keunggulan paving block untuk pengerasan jalan lingkungan yaitu mempermudah melakukan pemasangan tanpa alat berat, bisa dibongkar, elastis, dinamik, kejut dan tahan tumpahan bahan pelumas atau pemanasan mesin kendaraan. Sedangkan kelemahannya adalah bila pondasi tidak kuat akan mengakibatkan pengendara kurang nyaman pada kecepatan tinggi. Sehingga struktur ini sering dijadikan alasan agar kendaraan bisa melaju lambat di area pemukiman.