Bibit Kelapa Sawit Unggul

Pupuk
Cara Melakukan Pemupukan Kebun Kelapa Sawit
Jalan Sirtu VS Stabilisasi
Bibit Sawit Indonesia

Alasan Tepat Kenapa Harus Memilih Bibit Kelapa Sawit Unggul

Perkebunan kelapa sawit yang berhasil adalah yang telah menghasilkan buah dengan kualitas dan kuantitas yang terjamin secara mutu. Hal ini bisa didapatkan dengan berbagai faktor penting salah satunya pemilihan bibit-bibit terbaik yang kelak akan menjadi pohon sawit yang akan menghasilkan buah sehat dan berkualitas. Karena itu banyak pengusaha dan juga pengelola kebun berusaha mencari bibit-bibit unggul di penangkar-penangkar yang sudah ternama.

Tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa calon pekebun masih menganggap mendapatkan benih sawit membutuhkan spekulasi. Para calon pekebun terus berusaha mencari bibit dari satu penangkar ke penangkar yang lain. Selain itu mereka juga mencoba mencari jalur-jalur belakang agar memperoleh benih unggul. Namun perlu diperhatikan bahwa semakin seorang pekebun berspekulasi mendapatkan benih sawit maka semakin besar peluang dalam menggunakan benih palsu.

Hal tersebut lantaran membeli benih sawit pada umumnya tidak membutuhkan berbagai macam alternatif dan pencarian yang intensif. Hal tersebut lantaran penyedia benih sawit unggul untuk kecambah hanya 8 sumber perusahaan yaitu PPKS, PT. Lonsum, PT. BTN, PT. Socfindo. PT. Dami Mas, PT. Tunggal Yunus, PT. BSM serta PT. Tania Selatan. Selain ke delapan sumber tersebut dipastikan perusahaan legal. Produsen resmi ini telah menghasilkan benih dengan kualitas dangat baik karena telah mengalami proses introduksi yang sedemikian rupa dan berulang-ulang.

Sedangkan untuk bibit sawit, hanya penangkar yang sumbernya berwaralaba dari sumber benih resmi yaitu PPKS dan PT. BTN. Di luar daripada itu dipastikan legal. Kenyataannya jumlah bibit di lapangan saat ini terbatas tapi masih terdapat penangkar-penangkar waralaba yang memiliki bibit yang siap dikirim. Masalahnya, ada banyak pekebun yang berasumsi akibat informasi yang terbatas dan kurang siap dalam menerima kenyataan dari investasi benih itu sendiri. Seperti yang disebutkan tadi bahwa sumber penyedia beninh unggul terbatas atau tidak banyak, hanya terdapat 8 sumber benih serta beberapa penangkar pewaralaba dan tidak dari sumber lain.

Tidak pula dari orang ketiga atau perusahaan yang mengklaim memiliki benih unggu yang bisa dijual dan dikemas dalam bentuk peti atau kantung. Perlu dicatat benih unggu hanya dijual per kecambah, sedangkan peti atau kantung adalah media yang dilakukan saat pengiriman benih. Tidak semua pekebuh tahu akan hal tersebut, terutama pekebun kelapa sawit yang baru pertama kali membangun perkebunan kelapa sawit. Kurang siap dalam berinvestasi benih dapat dilihat dari sikap panik mereka saat mengetahui harga kecambah yang ternyata tidak murah. Diketahui bahwa harga benih sawit resmi tidak murah sekitar Rp. 7.000 – Rp. 10.000,-

Padahal untuk bibit di atas 12 bulan dihargai lebih dari Rp 25.000,-. Jika seorang pekebun ingin membeli 1.000 barang bibit unggu sawit berumur 12 bulan maka ia harus menyediakan uang min Rp. 25 juta. Karena itu banyak pekebun mengeluh mahalnya harga bibit sawit.

Jika dilihat dari investasi tersebut sebenarnya penghasilan yang diperoleh cukup sebanding. Apabila membeli bibit unggul maka pekebun juga memiliki kesempatan memeroleh produksi hingga 30 ton. Jika harga TBS Rp. 1.700,-/kg maka untuk setiap ha petani dapat memeroleh penghasilan sampai 51 juta. Satu ha dibutuhkan bibit sebanyak 150 (beserta sulaman) jadi biaya yang dikeluarkan Rp. 3.750.000,- Dengan melakukan investasi awal Rp. 3.750.000 bukanlah harga yang cukup mahal untuk mendapatkan penghasilan 51 juta/ha setiap tahunnya.

Apabila pekebun tidak menggunakan bibit unggul maka mereka berpeluang kehilangan produksi sampai 50% atau hanya berpenghasilan sekitar 25 juta. Hal ini telah dialami oleh sejumlah petani pohon sawit di Sumatera Utara yang memeroleh produksi TBS + 10 ton/ha/tahun walaupun telah mencapai umur puncak produksi.

Memang mendapatkan benih unggul terdapat kesulitan seperti sumber benih yang tidak selalu ada di seluruh wilayah perkebunan sawit. Akibat hal itu pekebun harus berlelah-lelah mengunjungi sumber benih lain dan harus menyiapkan dana lebih untuk ongkos pengiriman. Bersusah payah demi mendapatkan benih unggul adalah keharusan karena di kemudian hari hasil kerja keras dan sikap yang konsisten akan diganti dengan penghasilan yang lebih dari biaya yang telah dikeluarkan.