Bibit Kelapa Sawit Socfindo

Perkebunan Sawit
Monitoring Plan PT Agro Bukit Yang Matang
May 4, 2017
Tanah Gambut
Teknik Pengerasan Jalan Tanah Gambut
November 21, 2017
Bibit Sawit Socfindo

Di kuartal terakhir tahun 2016 yang lalu Indonesia kembali mencatatkan jumlah produksi CPO yang masih bertengger di posisi pertama dengan kapasitas kurang lebih 33 juta ton. Angka ini dapat tercapai tentu karena dukungan dari pengembangan perkebunan sawit nasional yang terus dipacu dari berbagai aspek. Mulai dari hulu hingga ke proses menjadi CPO siap konsumsi oleh pasar dunia.

Diluar besaran angka tersebut, dibaliknya ada hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan tanaman sawit yang memperhatikan konsep ekologis dan berkelanjutan. Ini tercatat sebagaimana tertuang dalam RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) standard, dimana di dalamnya mengatur tentang konsep perkebunan sawit mulai dari pembibitan sampai pasca panen. Adanya standar ini tentu bukan hanya mencakup tentang tata kelola perkebunan sawit yang benar dan berkelanjutan saja, namun juga termasuk dalam kerangka bagaimana menghasilkan benih sawit yang mampu bertahan dan produktif namun tetap berlandaskan prinsip-prinsip yang bersifat ekologis.

Tak heran, saat ini kebanyakan pelaku perkebunan sawit, berusaha mendapatkan jenis bibit sawit yang punya daya tahan penyakit yang baik, namun minim perawatan. Cara ini diyakini adalah salah satu mekanisme tata kelola perkebunan sawit yang ramah lingkungan namun tetap memenuhi standar produksi tinggi. Salah satu varietas berkualitas yang banyak diminati adalah bibit sawit socfindo.

Prinsip Tanam Yang Ekologis Bibit Sawit Socfindo, Produktif dan Tahan Hama

Bibit kelapa sawit Socfindo diproduksi oleh PT Socfindo Indonesia yang telah berpengalaman dalam pengembangan beragam varietas unggulan antara lain: DxP Socfindo Unggul Yangambi, DxP Unggul Socfindo Lame, dan DxP Socfindo MT Gano.

Setiap benih unggulan dikembangan guna memenuhi tuntutan kebutuhan benih sawit nasional dalam skala yang cukup. Benih kelapa sawit Socfindo diperoleh dari indukan DxP (Dura x Psifera Palm) yang punya ciri keunikan masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar varietas turunannya akan membawa sifat alami pohon indukan dan saat dikebunkan membawa hasil yang maksimal serta berkelanjutan dari segi agronomi. Inilah salah satu yang dimaksudkan berkebun sawit secara ekologis.

Perkebunan sawit tentu dijalankan dalam sebuah konsep tata kelola agronomi yang besar. Dalam skala tertentu, varietas yang kurang unggul akan menyebabkan kebutuhan tata kelola tanah yang membutuhkan terlalu banyak pupuk sebagai bagian dari perawatan tanaman agar berbuah secara optimal. Namun secara tidak langsung bila terlalu banyak diberikan pemupukan maka ada kemungkinan kesuburan alami tanah akan terganggu.

Produk varietas benih sawit yang hanya perlu kadar pemupukan cukup tetapi sudah mampu membawa hasil produksi tinggi adalah yang paling banyak dicari oleh pekebun. Sementara itu, sisi pemuliaan tanaman dan membawa dampak pada usia tanam yang lebih lama tetapi tetap menghasilkan TBS sawit dalam jumlah besar dengan rendemen CPO tinggi juga jadi salah satu tujuan dari prinsip perkebunan sawit yang berkelanjutan. Tanaman sawit yang demikian akan mengurangi kebutuhan peremajaan tanaman sehingga kesuburan alami tanah tetap terjaga.

Dari segi investasi, bibit sawit unggul juga adalah kunci kesuksesan pekebun sawit. Penanaman bibit sawit yang unggul akan membawa dampak berkuranganya perawatan, tetapi tetap memberikan hasil melimpah. Bibit kelapa sawit socfindo, dikembangkan dengan memilih indukan dura dan psifera yang baik. Hasilnya adalah tanaman sawit yang produktif tahan terhadap hama serta minim perawatan. Total biaya investasi perkebunan sawit yang besar, adalah satu hal yang harus jadi tolak ukur pemilihan bibit sawit terbaik.